Aku jadi pasif. Jarang bicara. Bahkan sangat malu untuk mengatakan apa yang ku inginkan. Segalanya terasa begitu berat untuk diucapkan. Lagipula, aku begitu malas untuk membuka mulutku. Menulis pun aku hampir tak bergairah, tapi inilah satu-satunya jalan untuk mengeluarkan isi kepalaku yang sulit diucapkan.
aku hanya mampu terdiam ketika banyak orang menghina atau lebih parahnya, menjatuhkan dan menjelek-jelekan ku. Aku hanya bisa tersenyum menahan pedih. Ingin rasanya aku berteriak, mengungkapkan kebenaran dan seluruh isi hatiku yang terpendam sejak lama. Tapi sayangnya, aku tak punya kesempatan untuk itu.. Huff..
Memendam rasa memang menyakitkan, tapi ini lebih baik daripada memperparah keadaan yang memang sudah cukup sulit untuk dikembalikan. Walaupun perih terasa, aku tetap merelakannya. Berdiam diri menahan segala amarah dan juga seluruh rasa yang berkecamuk di dalam dada.
Hingga kini aku masih diam. Aku hanya berbicara dengan angin, dedaunan dan burung2 gereja yang terkadang bertengger di sekitar rumah ku. Selebihnya hanya ada kebisuan yang mendalam.
Entah kapan aku kan mulai bersuara. Meskipun lirih yang terdengar. Tak apalah. Aku tak tau mengapa aku lebih nyaman dengan diamku walau perih meraja.
I have no word to say
but
So much I have to write..
hmmpppfff....
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar